Psychology 2025

  • Studi kuantitatif deskriptif psychological well-being pada guru yang mengajar anak berkebutuhan khusus di sekolah luar biasa
    by Kinar Febrita Valentina Missel on January 14, 2026 at 6:34 am

    Psychological well-being adalah suatu kondisi psikologis yang merujuk pada perkembangan dan keberfungsian positif pada individu secara menyeluruh. Kesejahteraan digambarkan sebagai kondisi mental dan emosional yang positif, merujuk sejauh mana individu dapat berfungsi secara optimal dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran terkait psychological well-being pada guru yang mengajar anak berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa (SLB). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif pada 170 guru SLB dengan menggunakan metode accidental sampling. Skala dalam penelitian ini menggunakan psychological well-being scale milik Carol Ryff (1989) dengan total 42 aitem yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Metode pengolahan data dengan melakukan kategorisasi pada setiap dimensi psychological well-being. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat psychological well-being pada guru SLB termasuk dalam kategorisasi tinggi (62%), dimana environmental mastery (49%), purpose in life (47%), personal growth (43%), self-acceptance (44%) berada di kategori tinggi, sedangkan autonomy di kategori rendah (49%). Hal ini menunjukkan bahwa guru SLB mempunyai kesejahteraan psikologis yang baik dalam menjalankan perannya dan mampu untuk menghadapi setiap tantangan di sekolah, namun masih belum sepenuhnya memgambil keputusan secara mandiri dan lebih banyak dilakukan dengan bermusyawarah bersama.

  • Hubungan antara self-disclosure dengan dukungan sosial pada komunitas lansia Benteng Gading
    by Benedictus Henry Rama Putra on October 8, 2025 at 7:37 am

    Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa, serta kemampuan berkomunikasi akan menurun secara khusus pada lansia. Namun berbeda pada lansia yg berada di komunitas Lansia Benteng Gading, mereka memiliki banyak kegiatan sehingga cenderung ada peningkatan kemampuan berkomunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-disclosure dengan dukungan sosial pada Komunitas Lansia Benteng Gading Madiun. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan melibatkan 60 orang lansia dari Kelompok Lansia Benteng Gading Madiun, dipilih menggunakan teknik total population. Instrumen penelitian mencakup skala self-disclosure dan skala dukungan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara self-disclosure dengan dukungan sosial pada lansia di komunitas tersebut. Hal ini didasarkan pada nilai koefisien korelasi sebesar -0,012 dengan signifikansi 0,928 (> 0,05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tingkat keterbukaan diri (self-disclosure) lansia tidak berkorelasi secara signifikan dengan tingkat dukungan sosial yang mereka terima di Komunitas Lansia Benteng Gading Madiun.

  • Adaptability through Group Dynamics for Students SMPK Garuda Parang Magetan
    by Yonathan Setyawan on September 24, 2025 at 4:58 am

    This study aims to improve the ability to adapt through Group Dynamics in Garuda Parang Magetan Catholic Junior High School. The research method uses theExperimental method, namely by providing an intervention to a certain group of Garuda Parang Magetan Catholic Junior High School. The research subjects consist of the entire student population of SMPK Parang Magetan thirty students attended the class. The results of the study showed that there was an increase in students’ ability to adapt after intervention through Group Dynamics.

  • Growth to grit: the role of growth mindset in grit among students who are active in the Student Council
    by Yonathan Setyawan on September 23, 2025 at 6:55 am

    OSIS merupakan wadah bagi siswa SMA/SMK untuk pengembangan soft skill dan pembentukan karakter,namun kerapkali siswa yang terlibat aktif dalam OSIS belum memaknai dan kurang gigih dalam melaksanakan setiap program kegiatan yang di adakan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran growth mindset terhadap grit pada siswa OSIS SMA/SMK di Kota Madiun. Sampel terdiri dari 70 siswa dari SMA/SMK di Kota Madiun. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala growth mindset yang dikembangkan oleh Dweck, C.S. (1999) dan skala grit yang dikembangkan oleh Duckworth (2009). Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh growth mindset terhadap grit (t = 4.715, p = 0.033). Besar sumbangan efektif growth mindset terhadap grit adalah 65%, sementara 35% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dieksplorasi dalam penelitian ini. Penelitian ini mendukung teori bahwa growth mindset mempengaruhi grit. Temuan ini dapat dijadikan dasar untuk mengembangkan model intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan grit pada siswa yang aktif berorganisasi OSIS.

  • A case study of loneliness in adolescent girls before and after losing a father figure
    by Yonathan Setyawan on September 23, 2025 at 6:29 am

    Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran loneliness pada remaja perempuan sebelum dan setelah kehilangan figur ayah. Subjek dalam penelitian berjumlah satu orang yang dipilih berdasarkan kriteria yaitu remaja perempuan yang kehilangan figur ayah karena kematian. Teknik pengumpulan data ini menggunakan wawancara semi struktur dengan pendekatan Inductive Thematic Analysis. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa subjek mengalami loneliness karena adanya peran dari figur ayah yang hilang karena kematian. Kami dapat menggambarkan tingkat loneliness subjek tersebut didasarkan dari aspek loneliness menurut Russel (1996) yang sudah ditelaah oleh ahli. Pada aspek personality loneliness, sebelum kehilangan ayah subjek telah mengalami perasaan loneliness, dan perasaan tersebut mengalami peningkatan sesudah subjek kehilangan ayah, kemudian pada aspek social desirability yang dimiliki oleh subjek belum sepenuhnya terpenuhi, yang terakhir pada aspek depression sebelum kehilangan ayah namun mengalami sebuah penurunan ketika bertemu dengan sosok kekasih yang sesuai dengan figur ayah yang diharapkannya.